Potensi-potensi pariwisata alam yang ada di Kota Pagaralam sepertirafting (arung jeram) di sungai Lematang, paralayang di gunung Dempo, serta rencana pembangunan lapangan golf, masih belum termanagedengan baik. Misal saja atraksi-atraksi penunjang di sektor pariwisata yang telah menjadi kalender tahunan, seperti Dempo Adventure Offroad, Road race dan Maraton Dempo 10 K.
Sementara, untuk fasilitas bermalam, seperti penginapan, hotel atauhomestay di lokasi pariwisata terkesan masih jauh dari cukup. Tercatat baru dua hotel kelas melati, serta satu penginapan hostel yang beroperasi di Kota Pagaralam. Tentu saja kondisi ini jauh dari memadai, apalagi setelah dibukanya Bandara Atung Bungsu, yang artinya Kota Pagaralam telah terbuka untuk jalur penerbangan dan kedatangan wisatawan.
Memang pemerintah Kota Pagaralam telah membangun vila di kawasan Gunung Gare, hotel berstandar bintang satu, Tangga 2001 di kawasan perkebunan teh gunung Dempo. Kendati terkesan tersendat, Pemerintah Kota Pagaralam dalam hal ini Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kota Pagaralam terus berusaha menata, menambah dan memperbaiki fasilitas di objek-objek wisata yang telah ada sebelumnya; seperti Air Terjun Lematang, Air Terjun (cughup) Embun, Tebat Muara Tenang, Tebat Gebhan dan di semua lokasi Batu Megalith.
Homestay Hasil Swadaya
Sebagai salahsatu titik awal pendakian ke puncak Gunung Dempo, kampung tertinggi di Sumatera Selatan, terletak pada ketinggian 1571 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini terbentuk sejak tahun 1994. Sejak awalnya memang diperuntukkan bagi pegawai dan pemetik teh PTPN VII yang menempatinya.
Ada hal unik yang dilakukan warga Kampung IV atau Afdeling IV. Sebagai imbas dari mutasi dan perpindahan warganya, akibatnya banyak rumah dan tempat tinggal warga di sana kosong dan terbengkalai. Dari 142 KK (kepala keluarga, red) pada tahun 2004, kini tercatat hanya tinggal 33 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di wilayah RT 10, 11 RW 02 Kampung IV atau Afdeling IV, Kelurahan Gunung Dempo, Kecamatan Pagaralam Selatan itu.
Warga kampung IV yang selama ini memang akrab dengan para pendaki gunung dari seluruh Indonesia dan manca negara, berinisiatif “mendayagunakan” rumah 2 pintu yang ditinggalkan penghuninya. Salahsatunya adalah menjadikan rumah tersebut menjadi Balai Serbaguna, yang akhirnya memang menjadi “serbaguna”.
Bukan saja sebagai tempat pertemuan warga, balai serbaguna itupun diswadayakan menjadi “Balai Pendaki” atau basecamp tempat beristirahat para pendaki, baik yang akan melakukan pendakian ataupun yang telah turun dari puncak gunung Dempo. Bahkan, menjadi tempat pemungutan suara (TPS) di setiap pesta demokrasi berlangsung.
Selain Balai Serbaguna, sejak awal tahun 2014 ini, salahsatu rumah yang tadinya terbengkalai, kembali diswadayakan oleh warga setempat. Setelah berkoordinasi dengan pihak PTPN VII, warga secara bergotong-royong membersihkan, melengkapi dan menjadikan salahsatu rumah di sana menjadi sebuah penginapan sejenis homestay.
Homestay yang dibuat oleh warga kampung IV dapat menjadi contoh yang baik, sebagai alternatif unik yang dapat dikembangkan di beberapa objek wisata lain di Kota Pagaralam. Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang Kota Pagaralam juga akan dikenal sebagai pusat wisata terintegrasi (terpadu), yakni wisata agronomi sekaligus wisata alam, berupa air terjun dan pendakian gunung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar